Kalian pasti penasaran kan? Siapa Ratmi dalam cerita sebelumnya? Disini aku akan memulai cerita itu. Di suatu desa hiduplah sepasang suami istri yg saling menyayangi. Hidup sederhana. Mereka mempunyai lahan yg begitu luas. Bahkan rumah yg mereka tempati sangat besar. Dari pernikahan tersebut mereka mempunyai 5 orang anak. Salah satunya adalah Rini menikah dg seorang laki-laki bernama Ratman, yg ia temui saat berada diperantauan. Ibu Rina menikah dg seorang karyawan pabrik kertas di Dumai, Pekanbaru Riau, mereka saling mencintai dg kesederhanaan Rini.
Ia kagum dg sosok Ratman ia seorang yg pendiam, baik dan pekerja keras. Perjalanan cinta mereka dimulai ketika Ratman datang bersama temannya kerumah Rini, untuk meminang. Disana ia bertemu dg Bapaknya. Ratman menyampaikan maksud kedatangannya ingin menikahi Rini. Orang tua Rini pun menegaskan "Rini arep kok gawe tenanan opo gur dolanan, Nikah kui dudu dolanan, dadi wong lanang kudu iso tanggung jawab yen ora siap mending ora usah golek liyone ae" Ratman hanya menunduk.
Saat itu Ratman sudah bertekad bulat untuk menikahi Rini. "Kulo damel sae pak". Akhirnya mereka menikah ternyata rumahnya hanya beda kecamatan dg rumah Rini. Setelah menikah mereka dikaruniai seorang putri bernama Ratmi. Ia lahir di Kota Reog tercinta "Ponorogo", setelah dirasa bisa dibawa ke Pekanbaru tempat Ratman dan bekerja, kemudian mereka membawa anak semata wayangnya ke Pekanbaru.
Disana mereka hidup sangat sederhana. Tapi mereka selalu bersyukur atas nikmat yg diberikan Yang Maha Kuasa. Rini sering pulang ke Jawa untuk menengok orangtuanya di kampung halaman. Rani, Kakak Rini, merasa iba kepada Ratmi yg sering diboyong pulang dari Pekanbaru-Ponorogo. Akhirnya Latif suami dari Rani, meminta agar Ratmi ditinggal di Jawa saja, "Ratmi biar kami yg merawat".
Rina diberi tanah oleh orangtuanya untuk rumah mereka. Suami Rini bekerja di Malaysia saat itu. Setelah pulang mereka bertani. Sosok suami Rani ini cerdas, tegas dan bertanggung jawab. Jika ia marah hanya diam. Latif memiliki 8 orang bersaudara. Latif adalah anak sulung. Ia sangat mandiri. Ia tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena tidak ada biaya saat itu. Ia hanya lulusan SD. Ia bertekad pendidikan itu penting. Ia mendidik Ratmi dg baik. Setelah Latif pulang dan tidak kembali ke Malaysia.
Ia memutuskan untuk bertani. Menyewa lahan Kepala Desa, untuk ditanami tembakau. Tergantung musim juga kadang padi, jagung. Menjadi petani tembakau hingga 12 tahun. Banyak suka dukanya kala itu, Ratmi sering diajak ke sawah digendongnya saat usianya masih 6 tahun. Mereka sangat menyayangi Ratmi, karena mereka tidak kunjung dikarunia anak. Ratmi sudah dianggap sebagai anak sendiri. Kisah Ratmi tidak sampai disini. Keseharian Rina selain membantu suaminya di sawah ia juga menjadi buruh masak ditempat orang dan berpindah tergantung yg memesan. Masakannya dikenal enak dan memiliki cita rasa yg khas oleh orang-orang di desanya.
Ratmi selalu diajak, karena agar tidak sendirian dirumah. Kehidupan yg sangat sederhana diajarkan oleh keluarga ini. Saat SD lulus Ratmi masih sering ikut ibunya menjadi buruh masak, mencuci piring, kadang menyetrika dirumah orang. Ratmi diberi uang Rp.15.000 sekali menyelesaikan pekerjaan. Kadang masih diminta oleh anak majikannya yg satu sekolahan dengannya. Hidup Rina dan suami sangat pas -pasan, sekedar membeli rok SD saja tidak mampu saat itu, Rina mengakali dg membeli kain dan ia jahit dg tangannya sendiri, karena upah menjahit yg mahal.
Orangtua Ratmi kadang mengirimi uang dan baju untuk Ratmi. Saat itu harus diambil di Kantor Pos Kecamatan yg jaraknya cukup jauh dari rumah. Ratmi juga belajar TPQ setiap sore diantar naik sepeda onthel, saat itu Latif belum memiliki motor. Ratmi ini anak yg nekat, tidak pernah menyerah dalam belajar. Sampai ia menjadi murid teladan di tempat ia menuntut ilmu agama. Ia rajin mengaji. Latif mengajari Ratmi untuk menjadi anak yg santun apalagi Rani mengharuskan untuk berbahasa jawa alus ketika bertemu maupun bersapa dg orang lain disekitarnya. Jika tidak Ratmi akan dihukum dikurung dikamar mandi yg gelap.
-----bersambung----
Komentar
Posting Komentar